TENTANG GIZMA

Spread the love
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

GIZMA

Gerakan Infak & Zakat Masjid Al-Huda

DKM & UPZ Al-Huda, Kompleks Graha Indah, Kedung Halang, Kota Bogor 16158

Membudayakan Infak-Sedekah Sekecil Apapun, Menunaikan Zakat sebagai Wujud Ketaatan Menunaikan Zakat sebagai Wujud Ketaatan

1

Perspektif GIZMA

GIZMA, Gerakan Infak & Zakat Masjid Al-Huda, merupakan pengembangan lebih lanjut dari GISMA (Gerakan Infak-Sedekah untuk Masjid Al-Huda) yang telah diinisiasi sebagai proram kerja DKM Al-Huda sejak Ramadhan 1430 H./2009 M.  Sesuai ajaran Islam, infak, sedekah, dan zakat merupakan suatu rangkaian perintah yang kaitannya sangat erat dan dapat dipandang dalam perspektif ibadah ritual dan sosial.  Bahkan, khusus tentang zakat, banyak ulama yang berpendapat bahwa perintah zakat lebih menekankan sebagai ibadah berdimensi sosial.  Karena itu, sifat dakwah tentang zakat, tidak lagi sekedar menggugah kesadaran muslimin-muslimat, melainkan menggugat muzaki untuk melaksanakan perintah zakat sesuai syariah Islam!

Setiap muslim hendaknya menyadari bahwa infak dan sedekah merupakan bentuk ketundukan kepada perintah Allah SWT dan Rasul-Nya.  Zakat merupakan salah satu rukun Islam.  Karena itu, zakat merupakan suatu ketentuan yang mengikat.  Orang yang mengingkari zakat berarti menolak shalat, berarti meruntuhkan agama.  Dalam dimensi sosial, zakat adalah hak fakir miskin dalam harta orang kaya (aghniya).

2

Tujuan, Pedoman, & Prinsip GIZMA

GIZMA bertujuan untuk (1) membudayakan seseorang dan seluruh anggota keluarga gemar memberikan infak-sedekah, sekecil apapun, (2)  memberikan informasi, menggugah kesadaran, menggugat untuk taat, dan melayani muzaki dalam menunaikan kewajiban zakat, dan (3) mengelola zakat-infak-sedekah yang terhimpun untuk kemakmuran masjid dan kemakmuran jamaah masjid serta untuk disalurkan kepada asnaf yang berhak berdasarkan syariah dan fatwa ulama atau kelembagaan yang berwenang, misalnya BAZNAS dan BAZDA. 

Pengelolaan program GIZMA berpedoman pada ketentuan syariah dan dinamika fikih zakat.   Pengelolaan program GIZMA berpegang teguh pada prinsip-prinsip amanah, transparansi, akuntabilitas, dan tanggung jawab.  

3

Zakat sebagai Rukun Sosial

Posisi zakat dalam Islam sangat penting. Sedemikian pentingnya, sehingga zakat sering disandingkan dengan shalat dalam Al-Quran.  Terdapat sekitar 27 ayat, bahkan sebagian ulama menyatakan 80 ayat, yang menyebutkan tentang zakat dalam berbagai bentuk kata, kadang-kadang disebut infak, kadang-kadang disebut sedekah.

Hal ini menjelaskan kepada kita bahwa zakat bukan hanya merupakan wujud kesalehan kita, tetapi lebih jauh lagi merupakan implementasi ketaatan kita kepada Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَنُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Tetapi bila (mereka) bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, barulah mereka saudara kalian se-agama. (QS At-Taubah: 11).

Secara operasional, Rukun Islam ada yang merupakan “rukun individu” dan ada pula yang merupakan “rukun jama’i” atau “rukun sosial.”  Syahadat, shalat, shaum, dan haji dikelompokkan sebagai Rukun Individu, sedangkan zakat merupakan Rukun Jama’i.  Karena itu, harus ada yang mengurus zakat (disebut amilin), sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah SWT:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS At-Taubah: 103).

4

Kedudukan Zakat dalam Islam

  1. Zakat dalam Islam bukanlah sekedar suatu kebajikan atau perbuatan baik atas dasar kesukarelaan.  Zakat merupakan suatu ketentuan yang mengikat karena ia adalah fondamen (rukun) Islam yang utama.  Dengan begitu, orang yang mengingkari zakat berarti menolak shalat.
  2. Zakat adalah hak fakir miskin dalam harta orang kaya. Hak tersebut ditetapkan sendiri oleh pemilik kekayaan yang sebenarnya, yaitu Allah SWT. Ia mewajibkan kepada hamba-hamba-Nya yang diberi-Nya kepercayaan berupa anugerah kelebihan harta.
  3. Zakat bukanlah sekedar bantuan makanan sewaktu-waktu untuk sedikit meringankan penderitaan orang miskin, atau sekedar memberikan beberapa ribu rupiah atau beberapa liter beras, dan kemudian tidak peduli lagi bagaimana nasib mereka selanjutnya. Zakat bertujuan menanggulangi kemiskinan, mencari penyebab kemiskinan itu, sehingga orang miskin dapat memenuhi kebutuhannya dan mampu memerbaiki kehidupan mereka.
  4. Penggunaan dana zakat tidak boleh terserah saja kepada para pemuka agama seperti yang berlaku dalam agama lain atau pihak-pihak yang rakus memburu dana itu tanpa hak. Pengalaman telah memberi pelajaran kepada kita bahwa yang terpenting bukanlah memungutnya, tetapi justeru menyangkut pengeluarannya.
  5. Zakat dipungut dari orang kaya pada suatu daerah untuk kemudian dikembalikan lagi kepada mustahik mereka. Tegasnya, zakat adalah dari, oleh, dan untuk penduduk setempat.

Objek Zakat

Dalam pemahaman klasik (konvensional), objek zakat terdiri atas (1) pertanian, (2) hewan ternak, (3) perdagangan, (4) mas & perak, dan (5) barang temuan.

Seiring dengan perkembangan zaman, para ulama bersepakat bahwa selain yang lima objek zakat tersebut di atas, objek zakat dalam pemahaman kontemporer ditambah dengan (1) property, (2) profesi atau penghasilan, (3) deposito dan/atau tabungan, (4) perusahaan, (5) saham, dan (6) undian.

6

Zakat Profesi (Penghasilan)

Dasar Pelaksanaan

  1. Firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الأرْضِ وَلا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS Al-Baqarah: 267).

  • Fatwa Muktamar Ulama Internasional I di Kuwait tanggal 29 Rajab 1404 H./30 April 1984 tentang Zakat Profesi (Penghasilan):

Nishabnya dianalogikan dengan pertanian (520 kg beras), sedangkan kadar zakatnya dianalogikan dengan emas (2,5%), dan dibayarkan setiap kali menerima.

  • Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) tanggal 6 Rabiul Akhir 1423 H./7 Juni 2002 M. tentang Zakat Profesi (Penghasilan):

Setiap penghasilan atau pendapatan seperti gaji, honorarium, upah, jasa, dan lain-lain yang diperoleh dengan cara halal, baik yang rutin maupun tidak rutin, seperti dokter, pengacara, konsultan dan sejenisnya, serta pendapatan yang diperoleh dari pekerjaan bebas lainnya, wajib dikeluarkan zakatnya apabila telah memenuhi persyaratan kewajiban zakat.

Renungan

Seorang petani harus bekerja selama empat bulan untuk dapat memanen padinya. Jika ia mendapat hasil panen sebanyak 653 kg gabah (neto) atau setara dengan 520 kg beras, maka ia telah terkena nishab (batas minimal) dan wajib berzakat dengan kadar 5% (lima persen).

  • Beras:  520 kg x Rp 10.000,00 = Rp 5.200.000,00
  • Zakat yang harus dikeluarkan:  5% x Rp 5.200.000,00 = Rp 260.000,00

Pendapatan petani per bulan hanyalah Rp 5.200.000,00 : 4 = Rp 1.300.000,00

Contoh perhitungan zakat profesi:

Gaji/Honor/Pensiunan per bulan = Rp 5.000.000,00
Pendapatan lainnya per bulan = Rp 1.000.000,00
Total pendapatan per bulan = Rp 6.000.000,00
Nishab = 520 kg beras x Rp 10.000,00 = Rp 5.200.000,00
Maka, zakat yang harus dikeluarkan setiap bulan = 2,5% x Rp 6.000.000,00 = Rp 150.000,00

7

Persamaan dan Perbedaan Pajak dengan Zakat

Persamaan:

  1. Adanya unsur paksaan.
  2. Adanya unsur pengelola.
  3. Persamaan dari segi tujuan.

Perbedaan:

  1. Perbedaan dari segi nama. Pajak = dharibah (pembebanan), sedangkan zakat dari akar kata zakaa = menyucikan, menumbuhkan.
  2. Dasar hukum:  Pajak ditetapkan oleh negara, sedangkan zakat ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya.
  3. Sifat kewajiban:  Pajak berlaku bagi setiap warga negara, sedangkan zakat hanya berlaku bagi pemeluk agama Islam.
  4. Objek:  Pajak diambil dari semua hasil usaha, tanpa memedulikan halal-haramnya, sedangkan zakat diambil hanya dari harta yang halal dan baik.
  5. Persentase:  Pajak ditetapkan oleh negara, bisa berubah sesuai kondisi, sedangkan zakat bersifat tetap sesuai dengan objek zakatnya.

Alasan keharusan bagi muslimin-muslimat untuk membayar pajak:

  1. Kepatuhan kepada penguasa (ulil amri).
  2. Sebagai bentuk solidaritas (ta’awun).
  3. Dinilai sebagai kebajikan bagi sesama (mashalihul mursalah).

8

Penyaluran (Pen-tasaharuf-an) Zakat

Landasan 1

وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

Dan di antara mereka ada yang mencelamu tentang (pembagian) zakat; jika mereka diberi sebahagian daripadanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian daripadanya, dengan sertamerta mereka menjadi marah. (QS At-Taubah: 58).

Landasan 2

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ

وَاِبْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk: (1) orang-orang fakir, (2) orang-orang miskin, (3) amilin, (4) muallaf (orang yang dibujuk hatinya), (5) membebaskan hamba sahaya, (6) gharimin (orang-orang yang berutang), (7) fii sabiilillah (orang-orang yang berjuang di jalan Allah), dan (8) ibnu sabiil (orang-orang yang kehabisan bekal dalam perjalanan), sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS At-Taubah: 60).

Fatwa BAZ Kota Bogor

Berdasarkan fatwa Dewan Pertimbangan BAZ Kota Bogor, besaran atau bobot penyaluran (pen-tasharuf-an) zakat-infak-sedekah untuk masing-masing ashnaf dari delapan ashnaf adalah sebagai berikut:

No. Ashnaf Besaran (%)
1 Fakir 27,5
2 Miskin 25,0
3 Amilin 12,5
4 Muallaf 0,5
5 Hambasahaya 1,0
6 Gharimin 2,0
7 Fii Sabiilillah 27,5
8 Ibnu Sabil 4,0
Jumlah (%) 100,0